Semua Alumni KBIH Mandiri adalah Agen Dakwah di Masyrakat

Semua Alumni KBIH Mandiri adalah Agen Dakwah di Masyrakat
Ibu-ibu Hajjah Rombongan 5 KBIH Mandiri 2017 foto bersama seusai mendengarkan tauziah Ustadz Urip Haryanto (kanan), Minggu (16/2/2020) di Pendopo Kalurahan Kratonan.

SOLO, MANDIRI – Ustadz Urip Haryanto yang juga mentor Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh (KBIHU) Mandiri Surakarta menegaskan bahwa seluruh alumni KBIH Mandiri yang telah menjalankan ibadah haji adalah agen dakwah.

“Kita ini semua adalah agen dakwah untuk masyarkat di tingkat paling bawah, masyarakat awam. Jadi berbeda misalnya dengan Ustadz Seno Hadisumitro yang telah memiliki kelas tersendiri untuk berdakwah. Bagi kita, tetap merupakan agen dakwah untuk masyarakat di sekitar kita,” papar Ustadz Urip ketika menjadi pembicara dalam pengajian rutin Rombongan 5 KBIH Mandiri tahun 2017 di Pendapa Kalurahan Kratonan, Minggu (16/2/2020).

Rombongan 5 KBIH Mandiri 2017 berjumlah sekitar 40 orang. Setiap dua atau tiga bulan sekali hingga saat ini masih secara rutin mengadakan pertemuan, tentu saja sebagai upaya menjaga kemrabruran mereka sekaligus ajang memupuk dan menyambung tali silaturahmi.

Menurut Ustadz Urip, setiap mukmin memiliki kewajiban untuk berdakwah, yaitu menyampaikan atau menyeru, mengajak dan memanggil orang lain agar beriman dan taat kepada Allah sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam.

“Nah jika Ustadz Seno, misalnya, menjangkau masyarakat yang sangat luas maka kita-kita ini juga merupakan agen dakwah di tingkat masyarakat sekitar kita, masyarakat kampong, atau masyarakat yang masih awam dengan aqidah atau syariat Islam,” tambahnya.

Ustadz Urip kemudian mencontohkan tentang afdhol dan tidaknya seorang perempuan salat berjamaah di masjid. “Jika ditanya, ibu-ibu pasti menjawab bahwa bagi perempuan salat di rumah itu lebih afdal dari pada salat di masjid. Hadisznya memang begitu. Tapi hadiz itu sebenarnya kan masih ada lanjutannya, bahwa jika ada perempuan yang ingin salah berjamaan di masjid, jangan dilarang,” katanya.

Namun, lanjut ustadz Urip, jika kualitas salat di rumah seorang perempuan masih belum sesuai dengan syariat maka akan lebih baik jika salatnya di masjid. “Karena dengan salat berjamaah di masjid, mengikuti imam yang mempraktekkan salat dengan sempurna maka si makmum tanpa harus membaca apa pun, salatnya sah.”

Berbeda jika seseorang salat di rumah namun rukun salat, misalnya bacaan Alfatihah atau bacaan doa tasyahud belum sempurna maka itu bisa membatalkan salat. “Ternyata banyak ibu-ibu yang bacaan Alfatihah dan doa tasyahudnya belum hafal. Ini kan berakibat fatal, salatnya bisa tidak sah,” tambah Ustadz Urip.

Nah terkait dengan hal-hal yang sebenarnya remeh namun mendasar itulah, kata Ustadz Urip yang menjadi salah satu tugas agen-agen dakwah alumni KBIH Mandiri. “Jika kita belum berkesempatan berdakwah dalam wilayah yang sangat luas seperti Ustadz Seno Hadisumitro itu misalny, maka kita punya ladang ibadah yang berada di sekeliling kita,” katanya. (***)

Mulyanto Utomo
ADMINISTRATOR
PROFILE

Berita Lainnya

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked with *

Latest Posts

Top Authors

Most Commented

Featured Videos